Nama desa Socalor berasal dari toponim “Soca Luhur” yang artinya Hyang Soca atau Leluhur Soca atau Kakek Soca yang merujuk kepada Raja Sela Soca Amiluhur. Raja Sela Soca Amiluhur adalah penguasa kerajaan Melayu purba pada akhir periode tahun Sura/Solon. Tepatnya tahun 100 Pra Saka atau setara dengan 100 Sura-78 Saka = ± 22 SM. Tahun itu ditandai kronogram “Sitinggil (1) Dhawuhan (3) ing Selo (1) Nirsoca (0) Luhur (0)” yang menandai waktu 1-3-100 Sura/Pra Saka. Kronogram itu berisi tentang berita Raja Sela Soca memerintah (dhawuh) di sitinggil (takhta). Raja Sela Nirsoca merupakan leluhur Raja Sela Saka atau Aji Saka yang dikenal sebagai Resi Withadarma.
Batu Kepala Nirsoca (Tanpa Mata)
Berita Raja Soca Wafat
Situs Socalor dibangun oleh Raja Sela Soca sebagai cerita silsilah atau “dhawuh” bagi anak cucunya yakni bangsa Melayu-Nusantara. Oleh karena itu, nama dusunnya disebut dusun Dawuhan. Kata Dawuhan berasal dari toponim “dhawuh” yang artinya berkata, bertutur, atau bercerita. Nama desa Socalor sebagai pengingat nama Raja Sela Soca Amiluhur. Nama wilayah Maesan sebagai penanda bahwa Raja Sela Soca Amiluhur berasal dari keturunan Raja Sela Mahesa Maya Amiluhur yang berkuasa tahun 1860 Pra Saka atau 1860-78 = ± 1782 SM (Sukatman, 2019:691-711). Nama besar Raja Sela Mahesa memunculkan nama (a) wilayah Maesan di Bondowoso Jawa Timur, (b) nama wilayah Watu Kebo di Jawa Tengah, (c) situs Batu Munding di Jawa Barat, (d) makam Raja Kandang di Aceh, (e) wilayah Kandangan di Kalimantan Selatan, (f) Pulau Masalembu dan Pantai Batu Kerbui di Pamekasan Madura, (g) Ritual Rambusolo (Lora Lembu Solo) di Sulawesi Selatan, dan (g) Laut Kabuy di Papua.



0 Komentar